Young-Min
Young-Min sangat panik ketika menyadari tangan Kalina terlepas dari genggamannya. Ketika ia menoleh ke belakang, gadis itu sudah terduduk di lantai dan tampak sangat kesakitan. Tanpa berpikir panjang, Young-Min pun segera menggendong Kalina di punggungnya dan membawanya keluar dari kerumunan secepat mungkin. Ia sama sekali tidak mau menurunkan Kalina, hingga mereka berhasil tiba di area outdoor yang jauh lebih sepi.
“Noona… gwenchanayo?”
“Kakiku sakit sekali,” sahut Kalina dengan bibir bergetar. “Mungkin tadi terkilir saat jatuh.”
Mata Young-Min langsung tertuju pada sepatu kanan Kalina yang haknya sudah patah. “Ah, bagaimana tidak terkilir.. coba lihat, haknya saja patah begini..”
“Ah, kau benar.. seharusnya aku tidak memakai sepatu seperti ini, sudah tahu akan banyak bergerak.” Kalina tersenyum kecut sambil memijit-mijit kakinya sendiri. “Mianhae, sampai merepotkanmu begini.”
Young-Min menggeleng cepat, lalu tersenyum. “Tidak, Noona sama sekali tidak merepotkan,” sahutnya. “Sekarang, sebaiknya kita pulang saja.”
“Pulang bagaimana? Kita kan baru sebentar disini! Kau bahkan belum sempat mencoba Bungee Drop yang kau impi-impikan itu!” Kalina mencoba berdiri dengan susah payah. “Lagipula kita belum menemukan yang lain. Lebih baik, sekarang kita mencoba mencari mereka sekali lagi. Nanti kalau sudah ketemu, kita kan bisa meneruskan bermain lagi!”
Mendengar perkataan gadis itu, Young-Min tidak bisa tidak tersentuh. Meskipun keringat sudah melunturkan make up-nya dan kakinya sudah nyaris tidak bisa digerakkan, ia masih sempat memikirkan orang lain. Ia sama sekali tidak mementingkan dirinya sendiri.
“Meneruskan bermain bagaimana? Aku tidak mungkin bisa bermain dengan tenang kalau Noona kesakitan begitu,” sahut Young-Min pelan sambil meraih tangan Kalina. “Kita pulang saja, ya?”
“Tidak! Aku tidak mau!” Kalina bersikeras. Ia bahkan mencoba berjalan sekarang. “Aku tidak mau liburan kita gagal karena kakiku ini!”
“Tidak apa-apa, Noona. Sungguh. Kapan-kapan kan kita masih bisa kemari lagi,” ujar Young-Min sambil memapah Kalina. “Dan, tentang para Hyong, Noona juga tidak usah khawatir. Nanti aku akan mengirim pesan supaya mereka tahu kalau kita sudah pulang duluan.”
Kalina menghentikan langkahnya yang terseok-seok, lalu menatap Young-Min dengan ragu. “Tapi…”
“Sudahlah,” potong Young-Min. “Ayo.. cepat naik lagi ke punggungku. Aku akan menggendong Noona sampai ke depan, setelah itu kita mencari taksi.”
“Apa tidak apa-apa? Bukankah aku berat sekali?” Kalina masih tampak ragu.
“Memang sedikit berat…” Young-Min tertawa kecil. “Tapi, tidak apa-apa. Asal Noona tidak merasa sakit, menggendongmu sampai ke rumah juga tidak masalah.”
“Ah.. gomawo..” Kalina tersenyum lembut, lalu naik ke punggung Young-Min yang sudah berjongkok di depannya. Gadis itu tidak bicara apa-apa lagi selama mereka mencari taksi. Bahkan, dalam perjalanan pulang pun tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Ia hanya memandang keluar jendela dalam diam, wajahnya tampak sangat lelah.
Setibanya di apartemen, Young-Min kembali menggendong Kalina sampai ke kamar tidurnya. Ia bahkan sempat mengoleskan salep analgesic di pergelangan kaki Kalina yang terkilir sebelum membiarkan gadis itu beristirahat.
“Noona sebaiknya tidur saja,” ujar Young-Min sembari menyelubungi tubuh Kalina dengan selimut. “Aku akan menunggu di luar. Jadi, kalau Noona membutuhkan sesuatu tinggal berteriak saja.”
“Ah, gomawo…” Kalina meraih tangan Young-Min lalu tersenyum lembut. “Tapi kau tidak perlu menunggui aku. Kau sendiri juga pasti sangat lelah. Kembali ke apartemenmu sendiri dan beristirahatlah!”
Setelah menimbang-nimbang sebentar, akhirnya Young-Min mengangguk. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia memang sangat lelah. Setelah berputar-putar keliling Lotte World yang begitu besar, ia masih harus menggendong Kalina sampai ke lantai tiga. Namun, Young-Min sama sekali tidak menyesali tindakannya itu. Ia justru sangat gembira. Bisa berada begitu dekat dengan Kalina, bisa menggenggam tangannya, bisa menolong saat gadis itu membutuhkannya, membuat Young-Min merasa sangat gembira. Ia juga mulai berani berharap, paling tidak setelah hari ini Kalina tidak akan hanya menganggapnya sebagai dongsaeng lagi.
++
“Noona… gwenchanayo?”
“Kakiku sakit sekali,” sahut Kalina dengan bibir bergetar. “Mungkin tadi terkilir saat jatuh.”
Mata Young-Min langsung tertuju pada sepatu kanan Kalina yang haknya sudah patah. “Ah, bagaimana tidak terkilir.. coba lihat, haknya saja patah begini..”
“Ah, kau benar.. seharusnya aku tidak memakai sepatu seperti ini, sudah tahu akan banyak bergerak.” Kalina tersenyum kecut sambil memijit-mijit kakinya sendiri. “Mianhae, sampai merepotkanmu begini.”
Young-Min menggeleng cepat, lalu tersenyum. “Tidak, Noona sama sekali tidak merepotkan,” sahutnya. “Sekarang, sebaiknya kita pulang saja.”
“Pulang bagaimana? Kita kan baru sebentar disini! Kau bahkan belum sempat mencoba Bungee Drop yang kau impi-impikan itu!” Kalina mencoba berdiri dengan susah payah. “Lagipula kita belum menemukan yang lain. Lebih baik, sekarang kita mencoba mencari mereka sekali lagi. Nanti kalau sudah ketemu, kita kan bisa meneruskan bermain lagi!”
Mendengar perkataan gadis itu, Young-Min tidak bisa tidak tersentuh. Meskipun keringat sudah melunturkan make up-nya dan kakinya sudah nyaris tidak bisa digerakkan, ia masih sempat memikirkan orang lain. Ia sama sekali tidak mementingkan dirinya sendiri.
“Meneruskan bermain bagaimana? Aku tidak mungkin bisa bermain dengan tenang kalau Noona kesakitan begitu,” sahut Young-Min pelan sambil meraih tangan Kalina. “Kita pulang saja, ya?”
“Tidak! Aku tidak mau!” Kalina bersikeras. Ia bahkan mencoba berjalan sekarang. “Aku tidak mau liburan kita gagal karena kakiku ini!”
“Tidak apa-apa, Noona. Sungguh. Kapan-kapan kan kita masih bisa kemari lagi,” ujar Young-Min sambil memapah Kalina. “Dan, tentang para Hyong, Noona juga tidak usah khawatir. Nanti aku akan mengirim pesan supaya mereka tahu kalau kita sudah pulang duluan.”
Kalina menghentikan langkahnya yang terseok-seok, lalu menatap Young-Min dengan ragu. “Tapi…”
“Sudahlah,” potong Young-Min. “Ayo.. cepat naik lagi ke punggungku. Aku akan menggendong Noona sampai ke depan, setelah itu kita mencari taksi.”
“Apa tidak apa-apa? Bukankah aku berat sekali?” Kalina masih tampak ragu.
“Memang sedikit berat…” Young-Min tertawa kecil. “Tapi, tidak apa-apa. Asal Noona tidak merasa sakit, menggendongmu sampai ke rumah juga tidak masalah.”
“Ah.. gomawo..” Kalina tersenyum lembut, lalu naik ke punggung Young-Min yang sudah berjongkok di depannya. Gadis itu tidak bicara apa-apa lagi selama mereka mencari taksi. Bahkan, dalam perjalanan pulang pun tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Ia hanya memandang keluar jendela dalam diam, wajahnya tampak sangat lelah.
Setibanya di apartemen, Young-Min kembali menggendong Kalina sampai ke kamar tidurnya. Ia bahkan sempat mengoleskan salep analgesic di pergelangan kaki Kalina yang terkilir sebelum membiarkan gadis itu beristirahat.
“Noona sebaiknya tidur saja,” ujar Young-Min sembari menyelubungi tubuh Kalina dengan selimut. “Aku akan menunggu di luar. Jadi, kalau Noona membutuhkan sesuatu tinggal berteriak saja.”
“Ah, gomawo…” Kalina meraih tangan Young-Min lalu tersenyum lembut. “Tapi kau tidak perlu menunggui aku. Kau sendiri juga pasti sangat lelah. Kembali ke apartemenmu sendiri dan beristirahatlah!”
Setelah menimbang-nimbang sebentar, akhirnya Young-Min mengangguk. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia memang sangat lelah. Setelah berputar-putar keliling Lotte World yang begitu besar, ia masih harus menggendong Kalina sampai ke lantai tiga. Namun, Young-Min sama sekali tidak menyesali tindakannya itu. Ia justru sangat gembira. Bisa berada begitu dekat dengan Kalina, bisa menggenggam tangannya, bisa menolong saat gadis itu membutuhkannya, membuat Young-Min merasa sangat gembira. Ia juga mulai berani berharap, paling tidak setelah hari ini Kalina tidak akan hanya menganggapnya sebagai dongsaeng lagi.
++
Kalina, gadis berdarah Indonesia yang sudah tiga tahun tinggal di Seoul untuk melanjutkan studinya di Kyung Hee University. Hidupnya yang semula tenang dan datar, berubah drastis sejak kedatangan lima orang tetangga baru yang menghuni apartemen di seberang tempat tinggalnya. Kelima laki-laki yang masih berusia belasan itu, perlahan-lahan mulai memercikkan warna pada hari-hari Kalina dan membangun hubungan noona-dan-dongsaeng yang kuat. Hingga akhirnya sebuah pengakuan terlontar, dan membawa perubahan besar disaat mereka sudah sama-sama tidak bisa hidup tanpa yang lain. Apa yang akan dilakukan Kalina, ketika ia sadar bahwa ia tidak bisa kembali pada hari-harinya yang datar dan tanpa warna?
MY NEW NOVEL...
Title: "Noona, Saranghaeyo!" (누나, 사랑해요!)
Author: Ayu Rianna
-----------------------COMING SOON-----------------------
Dictionary
Noona : panggilan untuk perempuan yang lebih tua (oleh laki-laki)
Hyong : panggilan untuk laki-laki yang lebih tua (oleh laki-laki)
Dongsaeng : adik
Gwenchanayo? : Apa kau baik-baik saja?
Mianhae : maaf
Gomawo : terima kasih
